DER
Selasa, 21 Juni 2011
Jumat, 26 November 2010
Kamis, 11 November 2010
Letusan Merapi Sekarang 3 Kali Lebih Besar
Metrotvnews.com, Sleman: Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (KPVMBG) Surono kembali menegaskan bahwa letusan Gunung Merapi kali ini tiga kali lebih besar dari letusan tahun 1997, 2001, dan 2006. Untuk itu Surono mengimbau masyarakat untuk mematuhi dan tetap berada di clear area atau area aman.
"Jangan lupa lagi ya. Saya mengatakan berkali-kali bahwa energi aktivitas Gunung Merapi tahun 2010 itu tiga kali lipat energi aktivitas Gunung Merapi menjelang letusan 97 (1997), 2001, dan 2006. Saya hanya berharap mudah-mudahan energi ini tidak dilepaskan secara tiba-tiba, sekaligus, yang berdampak adalah letusan eksplosif yang bisa berdampak seperti 1930," jelas Surono kepada Metro TV di Sleman, Yogyakarta, Sabtu (30/10) dinihari.
Surono mengatakan letusan Merapi pada tanggal 26 Oktober 2010 silam terjadi selama lebih kurang 33 menit. Dan tadi dinihari terjadi dua kali selama 21 menit. Itu membuktikan bahwa letusan Merapi tahun ini lebih dahsyat dan lebih besar dibanding tahun-tahun sebelumnya. Tahun 2006, letusan hanya selama 7 menit. Pada pembukaan letusan pada tahun 2010 selama 9 menit.
"Jadi memang terbukti sekarang letusannya energinya lebih," ujar Surono.
Dan yang lebih membahayakan letusan saat ini adalah tanda-tanda yang diberikan Merapi. Jika tahun-tahun sebelumnya, sebelum meletus, Merapi terlebih dulu membentuk kubah dan gumpulan api. Dengan begitu, warga bisa mempersiapkan untuk evakuasi diri. Nah, sekarang itu tidak ada. Saat Merapi status Siaga, Merapi tak menunjukkan visual apapun.
"Tidak lihat kubah lava, tidak lihat api diam. Tapi, untung Merapi masih memberikan sisa tanda, adalah guguran yang kadang-kadang terdengar masyarakat," jelas Surono.
Dengan pertimbangan itu, Surono meminta warga untuk tetap berada di daerah aman, di pengungsian. Jangan dulu kembali ke desa, meski sekadar melihat kondisi rumah atau mengurus ternak. Surono akan memantau terus status Merapi. Kondisi itu bertahan hingga status Merapi sudah turun. Bahkan Surono mengaku akan rapat untuk menetapkan radius daerah rawan bencana.
"Jangan lupa lagi ya. Saya mengatakan berkali-kali bahwa energi aktivitas Gunung Merapi tahun 2010 itu tiga kali lipat energi aktivitas Gunung Merapi menjelang letusan 97 (1997), 2001, dan 2006. Saya hanya berharap mudah-mudahan energi ini tidak dilepaskan secara tiba-tiba, sekaligus, yang berdampak adalah letusan eksplosif yang bisa berdampak seperti 1930," jelas Surono kepada Metro TV di Sleman, Yogyakarta, Sabtu (30/10) dinihari.
Surono mengatakan letusan Merapi pada tanggal 26 Oktober 2010 silam terjadi selama lebih kurang 33 menit. Dan tadi dinihari terjadi dua kali selama 21 menit. Itu membuktikan bahwa letusan Merapi tahun ini lebih dahsyat dan lebih besar dibanding tahun-tahun sebelumnya. Tahun 2006, letusan hanya selama 7 menit. Pada pembukaan letusan pada tahun 2010 selama 9 menit.
"Jadi memang terbukti sekarang letusannya energinya lebih," ujar Surono.
Dan yang lebih membahayakan letusan saat ini adalah tanda-tanda yang diberikan Merapi. Jika tahun-tahun sebelumnya, sebelum meletus, Merapi terlebih dulu membentuk kubah dan gumpulan api. Dengan begitu, warga bisa mempersiapkan untuk evakuasi diri. Nah, sekarang itu tidak ada. Saat Merapi status Siaga, Merapi tak menunjukkan visual apapun.
"Tidak lihat kubah lava, tidak lihat api diam. Tapi, untung Merapi masih memberikan sisa tanda, adalah guguran yang kadang-kadang terdengar masyarakat," jelas Surono.
Dengan pertimbangan itu, Surono meminta warga untuk tetap berada di daerah aman, di pengungsian. Jangan dulu kembali ke desa, meski sekadar melihat kondisi rumah atau mengurus ternak. Surono akan memantau terus status Merapi. Kondisi itu bertahan hingga status Merapi sudah turun. Bahkan Surono mengaku akan rapat untuk menetapkan radius daerah rawan bencana.
Kamis, 04 November 2010
Jika Angin Berhembus Kencang, Abu Merapi Bisa Sampai Jakarta
Bandung - Hujan abu Merapi sudah sampai kawasan Jawa Barat. Setelah kawasan Ciamis dan Tasikmalaya mulai diguyur sejak subuh, abu Merapi juga sudah mulai mengguyur kawasan Pengalengan, Kabupaten Bandung pagi tadi. Bila angin berhembus kencang, hujan abu Merapi bisa sampai Jakarta.
Terbawanya abu Merapi hingga kawasan Jawa Barat itu karena Merapi sejak mengalami erupsi pada Rabu (3/11/2010) sore kemarin hingga pagi tadi, angin bertiup ke arah barat. Bila kecepatan tiupan angin ke arah barat bertambah, maka sangat mungkin abu Merapi tiba di Jakarta.
"Tergantung kekuatan angin. Kalau aktivitas Merapi terus seperti ini, ditambah angin yang besar, ya bisa saja sampai ke Jakarta. Tapi ya jangan mengandai-andai dulu sampai ke sana," ujar Kepala Sub Bidang pengamatan Gunung Api, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Agus Budianto saat dihubungi detikcom , Kamis (4/11/2010).
Menurut Agus, hingga saat ini angin memang berhembus ke arah barat, sehingga mengakibatkan abu terbawa ke daerah Jawa Barat dan sekitarnya. "Anginnya kuat dan tinggi. Berapa jauh abu bisa terbawa ya tergantung kekuatan anginnya," tuturnya.
Merapi hingga kini masih terus mengalami erupsi. Bahkan menjelang pukul 06.00 WIB pagi tadi, letusan Merapi menjadi letusan paling besar sejak mengalami erupsi pada 26 Oktober 2010. Awan panas yang membumbung vertikal telah membuat hujan pasir dan abu di kawasan Magelang dan Klaten lebih tebal.
Terbawanya abu Merapi hingga kawasan Jawa Barat itu karena Merapi sejak mengalami erupsi pada Rabu (3/11/2010) sore kemarin hingga pagi tadi, angin bertiup ke arah barat. Bila kecepatan tiupan angin ke arah barat bertambah, maka sangat mungkin abu Merapi tiba di Jakarta.
"Tergantung kekuatan angin. Kalau aktivitas Merapi terus seperti ini, ditambah angin yang besar, ya bisa saja sampai ke Jakarta. Tapi ya jangan mengandai-andai dulu sampai ke sana," ujar Kepala Sub Bidang pengamatan Gunung Api, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Agus Budianto saat dihubungi detikcom , Kamis (4/11/2010).
Menurut Agus, hingga saat ini angin memang berhembus ke arah barat, sehingga mengakibatkan abu terbawa ke daerah Jawa Barat dan sekitarnya. "Anginnya kuat dan tinggi. Berapa jauh abu bisa terbawa ya tergantung kekuatan anginnya," tuturnya.
Merapi hingga kini masih terus mengalami erupsi. Bahkan menjelang pukul 06.00 WIB pagi tadi, letusan Merapi menjadi letusan paling besar sejak mengalami erupsi pada 26 Oktober 2010. Awan panas yang membumbung vertikal telah membuat hujan pasir dan abu di kawasan Magelang dan Klaten lebih tebal.
Merapi Mengganas, Juanda Tutup Rute Penerbangan ke Yogyakarta

"Tujuan dari dan ke tujuan Yogyakarta di close tanpa batas waktu yang belum ditentukan sampai kapan," kata Humas PT Angkasa Pura I Bandara Juanda, Firtson
Mansjur saat dihubungi detiksurabaya.com, Jumat (5/11/2010).
Soni sapaan akrabnya juga menuturkan terkait penutupan rute Yogyakarta memastikan tidak akan mengganggu pesawat dengan tujuan kota lainnya. Dari data Bandara Juanda, kata Soni, dua pesawat tujuan Yogyakarta dialihkan ke Juanda. Dua pesawat tersebut Mandala dan Sriwijaya.
"Pengalihan dua pesawat ini terjadi kemarin. Sedangkan penumpangnya melanjutkan perjalanan dengan menggunakan bus," pungkasnya.
Abu vulkanik Merapi adalah musuh berbahaya bagi pesawat terbang. Selain bisa mengganggu jarak pandang, bila abu masuk mesin pesawat, bisa membuat mesin mati mendadak.
24 Jam Terakhir Semeru Terjadi 78 Kali Letusan
Gunung Semeru masih waspada. Data yang dihimpun dari Pos Pantau Gunung Semeru di Gunung Sawur, 24 jam terakhir terjadi 78 kali letusan atau gempa hembusan disertai 3 kali gempa tektonik jauh.
"Aktivitas Semeru dibandingkan kemarin sejauh ini masih diambang normal. Meski begitu kita tetap mengimbau kepada masyarakat khususnya di sekitar kaki gunung agar tetap waspada," kata petugas Pos Pantau Semeru di Gunung Sawur, Candipuro, Kabupaten Lumajang, Sofyan, saat dihubungi detiksurabaya.com, Jumat (5/11/2010).
Hingga pukul 09.50 WIB, Gunung Semeru yang mempunyai ketinggian 3.676 meter di atas permukaan laut ini juga mengalami 32 kali gempa tremor harmonik dan mengalami 7 kali guguran lava pijar.
"Untuk guguran lava pijar hanya berjarak antara 100-400 meter dan masih diambang normal," imbuhnya.
Meski mengalami peningkatan, namun guguran lava pijar masih belum membahayakan bagi warga yang tinggal di lereng gunung tertinggi di Pulau Jawa. Meski begitu, warga tetap diimbau tidak melakukan aktivitas di jarak 4 kilometer dari puncak Semeru.
"Meski kondisinya terus mengalami peningkatan, tidak membahayakan bagi pemukiman warga yang jaraknya 11 kilomter dari puncak," pungkasnya.
Selain itu, Sofyan juga mengungkapkan, kondisi cuaca di puncak Semeru saat ini tertutup kabut dengan suhu 24 derajat celcius.
"Aktivitas Semeru dibandingkan kemarin sejauh ini masih diambang normal. Meski begitu kita tetap mengimbau kepada masyarakat khususnya di sekitar kaki gunung agar tetap waspada," kata petugas Pos Pantau Semeru di Gunung Sawur, Candipuro, Kabupaten Lumajang, Sofyan, saat dihubungi detiksurabaya.com, Jumat (5/11/2010).
Hingga pukul 09.50 WIB, Gunung Semeru yang mempunyai ketinggian 3.676 meter di atas permukaan laut ini juga mengalami 32 kali gempa tremor harmonik dan mengalami 7 kali guguran lava pijar.
"Untuk guguran lava pijar hanya berjarak antara 100-400 meter dan masih diambang normal," imbuhnya.
Meski mengalami peningkatan, namun guguran lava pijar masih belum membahayakan bagi warga yang tinggal di lereng gunung tertinggi di Pulau Jawa. Meski begitu, warga tetap diimbau tidak melakukan aktivitas di jarak 4 kilometer dari puncak Semeru.
"Meski kondisinya terus mengalami peningkatan, tidak membahayakan bagi pemukiman warga yang jaraknya 11 kilomter dari puncak," pungkasnya.
Selain itu, Sofyan juga mengungkapkan, kondisi cuaca di puncak Semeru saat ini tertutup kabut dengan suhu 24 derajat celcius.
Langganan:
Komentar (Atom)