Jumat, 26 November 2010
Kamis, 11 November 2010
Letusan Merapi Sekarang 3 Kali Lebih Besar
Metrotvnews.com, Sleman: Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (KPVMBG) Surono kembali menegaskan bahwa letusan Gunung Merapi kali ini tiga kali lebih besar dari letusan tahun 1997, 2001, dan 2006. Untuk itu Surono mengimbau masyarakat untuk mematuhi dan tetap berada di clear area atau area aman.
"Jangan lupa lagi ya. Saya mengatakan berkali-kali bahwa energi aktivitas Gunung Merapi tahun 2010 itu tiga kali lipat energi aktivitas Gunung Merapi menjelang letusan 97 (1997), 2001, dan 2006. Saya hanya berharap mudah-mudahan energi ini tidak dilepaskan secara tiba-tiba, sekaligus, yang berdampak adalah letusan eksplosif yang bisa berdampak seperti 1930," jelas Surono kepada Metro TV di Sleman, Yogyakarta, Sabtu (30/10) dinihari.
Surono mengatakan letusan Merapi pada tanggal 26 Oktober 2010 silam terjadi selama lebih kurang 33 menit. Dan tadi dinihari terjadi dua kali selama 21 menit. Itu membuktikan bahwa letusan Merapi tahun ini lebih dahsyat dan lebih besar dibanding tahun-tahun sebelumnya. Tahun 2006, letusan hanya selama 7 menit. Pada pembukaan letusan pada tahun 2010 selama 9 menit.
"Jadi memang terbukti sekarang letusannya energinya lebih," ujar Surono.
Dan yang lebih membahayakan letusan saat ini adalah tanda-tanda yang diberikan Merapi. Jika tahun-tahun sebelumnya, sebelum meletus, Merapi terlebih dulu membentuk kubah dan gumpulan api. Dengan begitu, warga bisa mempersiapkan untuk evakuasi diri. Nah, sekarang itu tidak ada. Saat Merapi status Siaga, Merapi tak menunjukkan visual apapun.
"Tidak lihat kubah lava, tidak lihat api diam. Tapi, untung Merapi masih memberikan sisa tanda, adalah guguran yang kadang-kadang terdengar masyarakat," jelas Surono.
Dengan pertimbangan itu, Surono meminta warga untuk tetap berada di daerah aman, di pengungsian. Jangan dulu kembali ke desa, meski sekadar melihat kondisi rumah atau mengurus ternak. Surono akan memantau terus status Merapi. Kondisi itu bertahan hingga status Merapi sudah turun. Bahkan Surono mengaku akan rapat untuk menetapkan radius daerah rawan bencana.
"Jangan lupa lagi ya. Saya mengatakan berkali-kali bahwa energi aktivitas Gunung Merapi tahun 2010 itu tiga kali lipat energi aktivitas Gunung Merapi menjelang letusan 97 (1997), 2001, dan 2006. Saya hanya berharap mudah-mudahan energi ini tidak dilepaskan secara tiba-tiba, sekaligus, yang berdampak adalah letusan eksplosif yang bisa berdampak seperti 1930," jelas Surono kepada Metro TV di Sleman, Yogyakarta, Sabtu (30/10) dinihari.
Surono mengatakan letusan Merapi pada tanggal 26 Oktober 2010 silam terjadi selama lebih kurang 33 menit. Dan tadi dinihari terjadi dua kali selama 21 menit. Itu membuktikan bahwa letusan Merapi tahun ini lebih dahsyat dan lebih besar dibanding tahun-tahun sebelumnya. Tahun 2006, letusan hanya selama 7 menit. Pada pembukaan letusan pada tahun 2010 selama 9 menit.
"Jadi memang terbukti sekarang letusannya energinya lebih," ujar Surono.
Dan yang lebih membahayakan letusan saat ini adalah tanda-tanda yang diberikan Merapi. Jika tahun-tahun sebelumnya, sebelum meletus, Merapi terlebih dulu membentuk kubah dan gumpulan api. Dengan begitu, warga bisa mempersiapkan untuk evakuasi diri. Nah, sekarang itu tidak ada. Saat Merapi status Siaga, Merapi tak menunjukkan visual apapun.
"Tidak lihat kubah lava, tidak lihat api diam. Tapi, untung Merapi masih memberikan sisa tanda, adalah guguran yang kadang-kadang terdengar masyarakat," jelas Surono.
Dengan pertimbangan itu, Surono meminta warga untuk tetap berada di daerah aman, di pengungsian. Jangan dulu kembali ke desa, meski sekadar melihat kondisi rumah atau mengurus ternak. Surono akan memantau terus status Merapi. Kondisi itu bertahan hingga status Merapi sudah turun. Bahkan Surono mengaku akan rapat untuk menetapkan radius daerah rawan bencana.
Kamis, 04 November 2010
Jika Angin Berhembus Kencang, Abu Merapi Bisa Sampai Jakarta
Bandung - Hujan abu Merapi sudah sampai kawasan Jawa Barat. Setelah kawasan Ciamis dan Tasikmalaya mulai diguyur sejak subuh, abu Merapi juga sudah mulai mengguyur kawasan Pengalengan, Kabupaten Bandung pagi tadi. Bila angin berhembus kencang, hujan abu Merapi bisa sampai Jakarta.
Terbawanya abu Merapi hingga kawasan Jawa Barat itu karena Merapi sejak mengalami erupsi pada Rabu (3/11/2010) sore kemarin hingga pagi tadi, angin bertiup ke arah barat. Bila kecepatan tiupan angin ke arah barat bertambah, maka sangat mungkin abu Merapi tiba di Jakarta.
"Tergantung kekuatan angin. Kalau aktivitas Merapi terus seperti ini, ditambah angin yang besar, ya bisa saja sampai ke Jakarta. Tapi ya jangan mengandai-andai dulu sampai ke sana," ujar Kepala Sub Bidang pengamatan Gunung Api, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Agus Budianto saat dihubungi detikcom , Kamis (4/11/2010).
Menurut Agus, hingga saat ini angin memang berhembus ke arah barat, sehingga mengakibatkan abu terbawa ke daerah Jawa Barat dan sekitarnya. "Anginnya kuat dan tinggi. Berapa jauh abu bisa terbawa ya tergantung kekuatan anginnya," tuturnya.
Merapi hingga kini masih terus mengalami erupsi. Bahkan menjelang pukul 06.00 WIB pagi tadi, letusan Merapi menjadi letusan paling besar sejak mengalami erupsi pada 26 Oktober 2010. Awan panas yang membumbung vertikal telah membuat hujan pasir dan abu di kawasan Magelang dan Klaten lebih tebal.
Terbawanya abu Merapi hingga kawasan Jawa Barat itu karena Merapi sejak mengalami erupsi pada Rabu (3/11/2010) sore kemarin hingga pagi tadi, angin bertiup ke arah barat. Bila kecepatan tiupan angin ke arah barat bertambah, maka sangat mungkin abu Merapi tiba di Jakarta.
"Tergantung kekuatan angin. Kalau aktivitas Merapi terus seperti ini, ditambah angin yang besar, ya bisa saja sampai ke Jakarta. Tapi ya jangan mengandai-andai dulu sampai ke sana," ujar Kepala Sub Bidang pengamatan Gunung Api, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Agus Budianto saat dihubungi detikcom , Kamis (4/11/2010).
Menurut Agus, hingga saat ini angin memang berhembus ke arah barat, sehingga mengakibatkan abu terbawa ke daerah Jawa Barat dan sekitarnya. "Anginnya kuat dan tinggi. Berapa jauh abu bisa terbawa ya tergantung kekuatan anginnya," tuturnya.
Merapi hingga kini masih terus mengalami erupsi. Bahkan menjelang pukul 06.00 WIB pagi tadi, letusan Merapi menjadi letusan paling besar sejak mengalami erupsi pada 26 Oktober 2010. Awan panas yang membumbung vertikal telah membuat hujan pasir dan abu di kawasan Magelang dan Klaten lebih tebal.
Merapi Mengganas, Juanda Tutup Rute Penerbangan ke Yogyakarta

"Tujuan dari dan ke tujuan Yogyakarta di close tanpa batas waktu yang belum ditentukan sampai kapan," kata Humas PT Angkasa Pura I Bandara Juanda, Firtson
Mansjur saat dihubungi detiksurabaya.com, Jumat (5/11/2010).
Soni sapaan akrabnya juga menuturkan terkait penutupan rute Yogyakarta memastikan tidak akan mengganggu pesawat dengan tujuan kota lainnya. Dari data Bandara Juanda, kata Soni, dua pesawat tujuan Yogyakarta dialihkan ke Juanda. Dua pesawat tersebut Mandala dan Sriwijaya.
"Pengalihan dua pesawat ini terjadi kemarin. Sedangkan penumpangnya melanjutkan perjalanan dengan menggunakan bus," pungkasnya.
Abu vulkanik Merapi adalah musuh berbahaya bagi pesawat terbang. Selain bisa mengganggu jarak pandang, bila abu masuk mesin pesawat, bisa membuat mesin mati mendadak.
24 Jam Terakhir Semeru Terjadi 78 Kali Letusan
Gunung Semeru masih waspada. Data yang dihimpun dari Pos Pantau Gunung Semeru di Gunung Sawur, 24 jam terakhir terjadi 78 kali letusan atau gempa hembusan disertai 3 kali gempa tektonik jauh.
"Aktivitas Semeru dibandingkan kemarin sejauh ini masih diambang normal. Meski begitu kita tetap mengimbau kepada masyarakat khususnya di sekitar kaki gunung agar tetap waspada," kata petugas Pos Pantau Semeru di Gunung Sawur, Candipuro, Kabupaten Lumajang, Sofyan, saat dihubungi detiksurabaya.com, Jumat (5/11/2010).
Hingga pukul 09.50 WIB, Gunung Semeru yang mempunyai ketinggian 3.676 meter di atas permukaan laut ini juga mengalami 32 kali gempa tremor harmonik dan mengalami 7 kali guguran lava pijar.
"Untuk guguran lava pijar hanya berjarak antara 100-400 meter dan masih diambang normal," imbuhnya.
Meski mengalami peningkatan, namun guguran lava pijar masih belum membahayakan bagi warga yang tinggal di lereng gunung tertinggi di Pulau Jawa. Meski begitu, warga tetap diimbau tidak melakukan aktivitas di jarak 4 kilometer dari puncak Semeru.
"Meski kondisinya terus mengalami peningkatan, tidak membahayakan bagi pemukiman warga yang jaraknya 11 kilomter dari puncak," pungkasnya.
Selain itu, Sofyan juga mengungkapkan, kondisi cuaca di puncak Semeru saat ini tertutup kabut dengan suhu 24 derajat celcius.
"Aktivitas Semeru dibandingkan kemarin sejauh ini masih diambang normal. Meski begitu kita tetap mengimbau kepada masyarakat khususnya di sekitar kaki gunung agar tetap waspada," kata petugas Pos Pantau Semeru di Gunung Sawur, Candipuro, Kabupaten Lumajang, Sofyan, saat dihubungi detiksurabaya.com, Jumat (5/11/2010).
Hingga pukul 09.50 WIB, Gunung Semeru yang mempunyai ketinggian 3.676 meter di atas permukaan laut ini juga mengalami 32 kali gempa tremor harmonik dan mengalami 7 kali guguran lava pijar.
"Untuk guguran lava pijar hanya berjarak antara 100-400 meter dan masih diambang normal," imbuhnya.
Meski mengalami peningkatan, namun guguran lava pijar masih belum membahayakan bagi warga yang tinggal di lereng gunung tertinggi di Pulau Jawa. Meski begitu, warga tetap diimbau tidak melakukan aktivitas di jarak 4 kilometer dari puncak Semeru.
"Meski kondisinya terus mengalami peningkatan, tidak membahayakan bagi pemukiman warga yang jaraknya 11 kilomter dari puncak," pungkasnya.
Selain itu, Sofyan juga mengungkapkan, kondisi cuaca di puncak Semeru saat ini tertutup kabut dengan suhu 24 derajat celcius.
Meletusnya Gunung Sinabung dan Buruknya Manajemen Kesiapan Bencana Alam di Indonesia
Gunung Sinabung yang meletus di Medan setidaknya memberikan banyak pelajaran khusunya bagi pemerintah Indonesia pada bidang manajemen kesiapan warga dalam menghadapi bencana alam dan kesiapan untuk memberikan bantuan yang memadai secara cepat.
Realitas yang terjadi di Gunung Sinabung mengenai minimnya informasi untuk melakukan pengungsian yang tersebar di masyarakat menunjukkan bahwa penyebaran informasi yang terjadi di daerah tersebut masih buruk. Bukan hanya di daerah itu saja, namun bisa dikatakan hampir di keseluruhan daerah yang seringkali mengalami bencana. Ketersidaan sarana dan prasarana untuk melakukan hal tersebut nampaknya masih sangat minim.
Selain itu, realitas di Gunung Sinabung juga menunjukkan bahwa harga-harga kebutuhan pokok begitu menjulang di daerah pengungsian. Selain itu, ketersediaan sembako pun ditengarai hanya mampu untuk dua hari ke depan seperti yang dilansir oleh situs kompas.com. Hal ini setidaknya menunjukkan bahwa ketersediaan logistik untuk menangani pengungsian yang diakibatkan oleh bencana alam belum sepenuhnya siap.
Daerah pengungsian pun juga menjadi faktor masalah. Dengan banyaknya pengungsi dan tempat yang tidak cukup besar, maka timbullah insiden desak-desakkan di tempat pengungsian seperti yang dilansir oleh situs kompas.com dan juga kejadian demonstrasi yang meminta dapur umum untuk segera dibangun di tempat pengungsian. Keadaan tempat pengungsian nampaknya tidak cukup untuk membuat pengungsi merasa nyaman.
Setidaknya hal-hal di atas menunjukkan bahwa kesiapan pemerintah Indonesia dan juga pemerintah daerah dalam menanggulangi bencana alam masih sangat kurang.
Masalah nyawa
Entah apapun alasan yang diberikan oleh pemerintah dalam masalah ini, nampaknya tidak cukup mampu untuk diterima mengingat hal ini sangat berhubugan dengan nyawa manusia, nyawa penduduk Indonesia yang seharusnya diayomi dengan baik oleh pemerintah Indonesia.
Jika saja informasi mengenai pengugngsian tidak tersebar dengan baik dan kemudian ada warga yang masih tertinggal, apakah pemerintah mau bertanggung jawab? Akankah kesalahan ditumpahkan kepada orang tersebut karena tidak bisa melihat tanda-tanda alam?
Di daerah manapun, apalagi untuk daerah-daerah yang masih berupa desa dimana jarak antarrumah penduduk masih berjauhan, diperlukan adanya alat dengan suara keras yang dapat digunakan untuk mengingatkan penduduk di daerah tersebut untuk segera melakukan pengungsian. Tidak bisa jika yang diharapkan hanya secara oral berharap setiap mulut manusia disana segera menyampaikannya dengan cepat.
Selanjutnya, dengan kondisi mengungsi yang bisa dipastikan tidak membawa perbekalan apapun, sudah seyogyanya pula pemerintah Indonesia untuk mengakomodasi mereka dengan keadaan tempat pengungsian yang baik dan juga dengan pemenuhan kebutuhan hidup mereka untuk beberapa hari ke depan. Apakah pemerintah mau meihat mereka hanya makan seadanya atau lebih parah lagi melihat mereka semua kelaparan dalam tenda-tenda pengungsian? Ini menyangkut bagaimana seharusnya pemerintah Indonesia bersikap, yakni dengan melihat setiap nyawa dari penduduk Indonesia yang sedang terkena musibah itu sebagai sesuatu yang sangat berharga yang harus dijaga, bukannya diabaikan begitu saja.
Oleh karena itu logstik dan kesiapan tempat pengungsian harus bisa mendapat prioritas ketika gelombang pengungsi sudah datang ke tempat pengungsian tersebut. Jika para ahli sudah memprediksi akan datangnya bencana dan kemudian pemerintah daerah sudah memerintahkan untuk melakukan pengungsian, maka sudah seyogyanya kesiapan tempat pengungsian itu dijaga. Logistik pun harus segera disiapkan agar jangan sampai juga terjadi kekurangan pangan.
Dalam proses menuju tempat pengungsian pun, warga tidak bisa dibiarkan berjalan sendirian tanpa arah. Kemungkinan mereka untuk mendapatkan musibah sampingan disamping musibah akibat bencana alam sangat besar karena pada saat yang sama warga lainnya juga melakukan hal yang sama untuk menyelematkan diri. Hal ini juga ditambah dengan rasa kepanikan yang dialami oleh warga.
Oleh karena itu, perlindungan harus diberikan kepada warga dalam melakukan pengungsian sehingga tidak ada kejadian yang mengakibatkan warga malah mendapatkan musibah ketika mengungsi. Sangat disayangkan jika memang harus terjadi kecelakaan dalam proses pengungsian karena hal ini menunjukkan bahwa tidak ada yang mengatur warga dan menjamin keamanan mereka dalam melakukan pengungsian.
Pemetaan dan sosialisasi
Selain hal-hal di atas, yang sekiranya perlu dilakukan oleh pemerintah Indonesia ke depannya adalah melakukan pemetaan terhadap lokasi yang berpotensi terkena bencana alam.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa Indonesia dilewati oleh jalur gunung berapi dan pertemuan lempengan-lempengan yang membuat Indonesia sangat rentan terkena bencana alam. Oleh karena itu, pemetaan menjadi hal yang sangat penting. Hal ini sangat berguna untuk menyiapkan daerah tersebut dengan beberapa persiapan awal serta menyiapkan loasi-lokasi strategis yang sekiranya dapat digunakan ketika bencana alam itu terjadi dan juga mempersiapkan beberapa logistik yang sekiranya diperlukan disana. Hal ini berarti sebagai upaya awal untuk mendukung manajemen bencana alam.
Selain itu, yang diperlukan adalah melalui upaya sosialisasi dan simulasi terhadap warga yang berada di daerah tersebut. Warga harus sudah dibiasakan untuk menghadapi bencana alam tersebut sehingga ketika terjadi bencana alam yang sesungguhnya warga disana sudah tidak lagi terlalu panik dan proses pengungsian dapat berjalan dengan tenang dan lancar.
Selain itu, yang tidak kalah pentingnya adalah kesiapan sarana dan prasarana dalam manajemen bencana alam tersebut. Diperlukan adanya alat yang dapat memberikan peringatan secara menyeluruh kepada warga sekitar dan juga perawatan aat tersebut harus dilakukan dengan baik. Jangan sampai pada hari kejadian bencana alam yang sesungguhnya alat tersebut rusak dan akhirnya tidak dapat dipakai.
Manajemen bencana alam ini adalah hal yang sangat mendesak bagi Indonesia mengingat Indonesia seringkali mengalami bencana alam. Tanpa adanya upaya yang maksimal dari pemerintah Indonesia untuk melakukan hal ini, berarti mereka sama saja tidak menghargai nyawa penduduk Indonesia sendiri.
di suruh ngepost sesuatu, jadi ngepost aja ngasal...
kemarin bu dewi kita tercinta baru pulang dari pelatihan tentang administrasi penjamin mutu pendidikan... eeehh,, hari ini bu dewi udah nyuruh kita ngepost aja.
Langganan:
Komentar (Atom)